Puasa Berdasarkan Alkitab: Mengapa Orang Kristen Berpuasa dan Bagaimana Memulainya
- 3 Agustus
- Waktu baca 7 menit
Diperbarui: 4 Agustus
Yesus mengira murid-murid-Nya—baik dulu maupun sekarang—akan berpuasa. Dia berkata,
“Saat kamu berpuasa, janganlah kamu tampak murung seperti orang-orang munafik” (Matius 6:16)
dan sekali lagi:
“Akan datang hari-hari ketika mempelai laki-laki diambil dari mereka, lalu mereka akan berpuasa” (Matius 9:15)
Puasa bukanlah pilihan dalam kehidupan Kristen; itu adalah bagian yang diharapkan dan penting dari pengabdian kita kepada-Nya. Ini adalah dasar Kekristenan—disiplin spiritual yang seharusnya menjadi bagian dari gaya hidup setiap orang percaya, bukan hanya peristiwa sesekali.
Kita juga hidup di saat yang kritis. Melalui nabi Yoel, Allah memanggil umat-Nya: “Sekarang juga,” firman Tuhan, “kembalilah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, menangis, dan meratap” (Yoel 2:12). Ini bukan hanya panggilan pribadi tetapi juga panggilan bersama: “Tiupkanlah terompet di Sion, umumkanlah puasa kudus, adakanlah perkumpulan kudus” (Yoel 2:15). Melalui Roh-Nya, Allah menyampaikan hal yang sama kepada Gereja saat ini—sudah waktunya untuk berpuasa, merendahkan diri, dan mencari Dia bersama-sama.
Alasan lainnya adalah karena Allah kita adalah api yang menghanguskan segalanya (Ibrani 12:29). Puasa tidak menciptakan api Allah; puasa menempatkan kita lebih dekat kepada-Nya, memungkinkan kita untuk lebih banyak mengalami hadirat-Nya dan hal-hal rohani. Puasa juga membakar habis gangguan dan ketumpulan daging, meningkatkan kepekaan rohani dan kerinduan kita akan Dia. Puasa memperkuat setiap disiplin rohani—baik doa, ibadah, maupun mempelajari Firman.

Namun, marilah kita tegaskan: puasa tidak membeli apa pun bagi kita di Kerajaan Allah. Keselamatan, kebenaran, dan penerimaan di hadapan Allah telah sepenuhnya dibeli oleh Yesus Kristus di kayu salib. “Sudah selesai” (Yohanes 19:30). Puasa tidak menambah apa pun pada harga yang telah dibayar. Sebaliknya, puasa menempatkan kita pada posisi untuk mengalami lebih banyak hal yang telah Yesus capai. Puasa membuka hati kita lebih penuh kepada hadirat-Nya dan kepada segala sesuatu yang menjadi milik kita melalui karya penebusan di kayu salib.
Yang terpenting, alasan utama kita berpuasa adalah kasih kepada Yesus dan kerinduan untuk mengenal-Nya lebih dalam. Kita berpuasa karena kita ingin lebih merindukan Dia daripada apa pun. Kita menyisihkan makanan agar jiwa kita berseru lebih keras: “Yesus, Engkau adalah roti hidupku, Engkau adalah bagianku, Engkau cukup bagiku.” Ini bukan tentang mendapatkan kasih-Nya—ini tentang menanggapi kasih-Nya dengan pengabdian sepenuh hati.

Alasan-alasan Alkitabiah untuk Berpuasa
Alkitab menunjukkan banyak alasan mengapa umat Tuhan berpuasa. Berikut beberapa alasan utamanya:
Untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan (Ezra 8:21; Mazmur 35:13).
Karena kerinduan akan Yesus yang lebih besar (Matius 9:15).
Untuk kembali kepada-Nya dalam pertobatan (Yoel 2:12).
Untuk mencari bimbingan dan arahan-Nya (Kisah Para Rasul 13:2-3).
Untuk memperkuat doa dan permohonan (Nehemia 1:4; Daniel 9:3).
Untuk mengatasi peperangan rohani (Matius 17:21).
Untuk mempersiapkan diri bagi pelayanan dan terobosan (Lukas 4:1-14).
Untuk mendekatkan diri kepada hadirat-Nya (Yakobus 4:8).
Sekalipun puasa terasa hambar atau ketika kita merasa tidak ada yang terjadi, Tuhan sedang bekerja di tempat yang tak terlihat: sesuatu sedang terjadi di dalam Roh.
Tuhan melihat setiap pengorbanan: semua yang kita lakukan dan semua yang kita hindari karena kasih kepada-Nya. Puasa adalah investasi untuk masa depan. Apa pun yang kita investasikan sekarang, akan kita tuai nanti. Setidaknya, kita akan menuai lebih banyak hadirat-Nya—dan itulah pahala terbesar dari semuanya.
Jenis-Jenis Puasa dalam Alkitab
Puasa Daniel: Puasa Sebagian Berdasarkan Alkitab
Daniel 1:12; 10:2–3

Daniel menghindari makanan berlemak, daging, dan anggur, dan hanya makan sayuran, kacang-kacangan, dan air. Kata Ibrani yang digunakan adalah zeraʿ—yang berarti hal-hal yang tumbuh dari biji (sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, buah-buahan). Dia hanya makan sayuran dan minum air. Ini termasuk makanan seperti:
Lentil, kacang-kacangan, buncis, kacang polong
Biji-bijian utuh (jelai, gandum, millet, oat, mungkin beras) — catatan: bentuk modernnya adalah GMO, sangat diproses dan cepat berubah menjadi gula, jadi tidak disarankan saat ini
Buah-buahan (kurma, buah ara, anggur, delima, apel, dll.)
Sayuran (bawang bombai, daun bawang, mentimun, rempah-rempah, dll.)
Ini adalah puasa parsial— puasa ini menghilangkan makanan tertentu sambil tetap memperbolehkan asupan nutrisi.
Catatan: Sayangnya, sebagian orang memperlakukan puasa Daniel sebagai izin untuk makan berlebihan hanya karena makanan tersebut "sehat," sehingga mengubah puasa menjadi pesta. Porsi besar kacang-kacangan, alpukat, minyak, atau sayuran bertepung dapat menambah kalori secara signifikan dan menggagalkan tujuan puasa. Untuk menjaga agar puasa tetap benar-benar bermanfaat, fokuslah pada porsi yang wajar, makanan sederhana, dan makan dengan terkendali serta niat yang disertai doa.
Puasa Ester
Ester 4:16
Esther menyerukan puasa total—tidak makan dan tidak minum selama tiga hari—sebelum ia mengambil langkah yang menentukan hidup dan mati. Ini adalah puasa absolut atau puasa kering dan menunjukkan keseriusan dan ketergantungan yang ekstrem kepada Tuhan. Siapa pun yang mencoba melakukan puasa kering harus terlebih dahulu mempersiapkan diri dengan makan sehat selama beberapa hari, kemudian memulai dengan puasa air terlebih dahulu. Setelah minimal 2 hari, hentikan konsumsi air.
Peringatan: Puasa total dapat membawa risiko. Bahkan orang dewasa yang sehat pun dapat mengalami dehidrasi dalam tiga hari. Puasa ini tidak cocok untuk anak-anak, lansia, wanita hamil atau menyusui, atau mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Jadikan Yesus sebagai Pusat Puasa Anda
Puasa bukanlah semata-mata tentang makanan, ketahanan fisik, atau menyelesaikan tantangan spiritual. Ini adalah kesempatan untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan, menghilangkan gangguan, dan memberikan perhatian lebih besar pada doa, Kitab Suci, pertobatan, ibadah, dan syafaat.
Kita berpuasa bukan untuk mendapatkan kasih Allah, membeli kemurahan-Nya, atau membuktikan kerohanian kita. Segala sesuatu yang kita terima dari Allah telah dibeli oleh Yesus Kristus melalui Salib. Puasa hanya membantu menempatkan hati kita untuk mencari Dia dengan lebih sungguh-sungguh dan mengalami dengan lebih penuh apa yang telah Dia sediakan bagi kita.
Pahala terbesar dari puasa bukanlah jawaban khusus atas doa, pengalaman spiritual, atau terobosan pribadi. Pahala terbesar adalah Yesus Sendiri.
Apa yang Harus Kita Lakukan Saat Berpuasa?
Puasa seharusnya menciptakan lebih banyak ruang bagi Tuhan, bukan sekadar meninggalkan ruang kosong di tempat yang dulunya ada makanan.
Gunakan waktu yang biasanya Anda habiskan untuk menyiapkan dan menyantap makanan untuk:
Berdoalah dan tunggulah dengan tenang di hadapan Tuhan.
Bacalah dan renungkan Kitab Suci.
Sembahlah Yesus.
Mintalah Roh Kudus untuk menyelidiki hatimu.
Bertobatlah atas segala sesuatu yang Dia ungkapkan.
Ampunilah mereka yang telah menyakitimu.
Carilah upaya rekonsiliasi jika hubungan telah rusak.
Berdoalah untuk keluarga, gereja, kota, dan bangsa Anda.
Dengarkan petunjuk Tuhan dan tanggapi dengan taat.

Puasa tanpa doa bisa menjadi sekadar menahan diri dari makanan. Puasa menurut Alkitab mengarahkan perhatian kita kepada Tuhan.
Berpuasa dengan Kerendahan Hati
Yesus memperingatkan agar tidak berpuasa demi diperhatikan orang lain:
“Tetapi kamu, jika berpuasa, urapilah kepalamu dan basuhlah mukamu, supaya puasamu itu tidak diketahui orang, melainkan hanya diketahui oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Dan Bapamu yang melihat apa yang dilakukan di tempat tersembunyi akan memberi upah kepadamu.”—Matius 6:17-18
Jangan menggunakan puasa untuk membandingkan diri dengan orang lain atau untuk terlihat lebih spiritual.
Seseorang mungkin berpuasa hanya untuk satu kali makan. Orang lain mungkin berpuasa selama sehari, beberapa hari, atau lebih lama. Sebagian orang mungkin melakukan puasa sebagian karena alasan kesehatan, usia, kehamilan, pengobatan, atau tanggung jawab lainnya.
Pertanyaan penting bukanlah:
“Apakah puasa saya sesulit puasa orang lain?”
Pertanyaan pentingnya adalah:
“Apakah saya dengan tulus mencari Yesus dan menaati apa yang Dia minta dari saya?”
Puasa Harus Disertai Ketaatan
Tuhan tidak terkesan dengan puasa lahiriah ketika hati kita tetap sombong, tidak pemaaf, tidak adil, atau pemberontak.
Yesaya 58 mengungkapkan bahwa puasa sejati mencakup lebih dari sekadar menahan diri dari makanan. Itu termasuk berpaling dari penindasan, memperhatikan orang-orang yang membutuhkan, melepaskan ikatan kejahatan, dan hidup dalam kasih dan kebenaran.
Joel juga menghubungkan puasa dengan kembali kepada Tuhan secara tulus:
“Namun sekarang juga,” firman Tuhan, “kembalilah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, menangis, dan meratap; dan koyakkanlah hatimu, bukan hanya pakaianmu.”—Yoel 2:12-13
Tujuannya bukan sekadar pengorbanan lahiriah. Tuhan menginginkan hati yang hancur, menyerah, dan bersedia berubah.

Saat kamu berpuasa, mintalah kepada Tuhan:
Apakah ada orang yang perlu saya maafkan?
Apakah ada seseorang yang perlu saya mintai maaf?
Apakah ada dosa yang selama ini saya benarkan?
Adakah area dalam hidup saya yang saya tolak untuk serahkan?
Apakah ada seseorang yang perlu saya bantu?
Apakah ada tindakan ketaatan yang telah saya tunda?
Puasa sejati seharusnya menghasilkan kasih yang lebih besar kepada Tuhan dan ketaatan yang lebih besar kepada-Nya.
Jangan Mengganti Satu Gangguan dengan Gangguan Lainnya
Kita bisa berhenti makan sambil tetap mengisi setiap momen tenang dengan media sosial, hiburan, berita, pekerjaan, atau hal-hal lain yang mengalihkan perhatian.
Pertimbangkan untuk mengurangi segala sesuatu yang terus-menerus menyita pikiran Anda dan menghalangi Anda untuk fokus kepada Tuhan.
Ini mungkin termasuk:
Media sosial.
Televisi dan hiburan.
Penggunaan internet yang tidak perlu.
Konsumsi berita yang berlebihan.
Belanja.
Pertandingan.
Aktivitas yang menghabiskan banyak waktu.
Percakapan yang mendorong gosip, kritik, atau ketumpulan spiritual.
Tujuannya bukan sekadar melepaskan hal-hal materi. Tujuannya adalah untuk memberi ruang bagi Yesus.
Berpuasalah Bersama Orang Lain Jika Memungkinkan
Puasa adalah hal yang sangat pribadi, tetapi Kitab Suci juga menunjukkan bahwa seluruh komunitas berpuasa bersama.
Yoel menyerukan diadakannya perkumpulan kudus. Ester meminta umat Yahudi untuk berpuasa bersama. Dalam Kisah Para Rasul, para pemimpin gereja beribadah dan berpuasa sambil mencari petunjuk dari Tuhan.
Keluarga, kelompok kecil, gereja, dan pelayanan dapat sepakat untuk mencari Tuhan bersama-sama sambil memberikan kebebasan kepada individu untuk memilih bentuk puasa yang sesuai bagi mereka.
Puasa korporat dapat membantu menciptakan:
Persatuan.
Rasa lapar spiritual yang sama.
Rekonsiliasi.
Doa syafaat yang lebih kuat.
Kepekaan yang lebih besar terhadap arahan Tuhan.
Respons kolektif berupa pertobatan dan ketaatan.
Namun, tidak seorang pun boleh ditekan, dikutuk, atau diperlakukan sebagai kurang spiritual karena bentuk atau lamanya puasa yang mereka lakukan.
Bagaimana Anda Harus Memulainya?
Sisihkan waktu di hadapan Tuhan dan tanyakan kepada-Nya bagaimana Ia ingin Anda berpuasa. Pilihlah bentuk dan durasi yang memungkinkan Anda untuk mencari Dia dengan tulus dan bertanggung jawab.
Sebelum memulai:
Temukan tujuan spiritual Anda.
Tentukan kapan puasa akan dimulai dan berakhir.
Sisihkan waktu khusus untuk berdoa dan membaca Kitab Suci.
Singkirkan gangguan yang tidak perlu.
Persiapkan keluarga atau rumah tangga Anda jika diperlukan.
Tuliskan orang-orang dan situasi yang akan Anda doakan.
Mintalah kepada Tuhan untuk mengungkapkan hal-hal yang perlu diubah dalam hidup Anda.
Jangan menunggu sampai Anda merasa benar-benar siap. Mulailah dengan kerendahan hati dan iman.
Doa Sebelum Anda Memulai
"Yesus, Engkau adalah Roti Kehidupan dan kebutuhan terdalamku. Aku berpuasa bukan untuk mendapatkan kasih-Mu atau membuktikan pengabdianku, tetapi karena aku ingin mengenal-Mu lebih dalam. Saat aku berpuasa, selidiki hatiku dan singkapkan segala sesuatu yang menyedihkan hati-Mu. Berilah aku anugerah untuk bertobat, mengampuni, taat, dan menyerahkan setiap aspek hidupku kepada kepemimpinan-Mu. Singkirkan gangguan, perdalam kerinduanku akan hadirat-Mu, dan ajarkan aku untuk mendengar suara-Mu dengan lebih jelas. Biarlah puasa ini menghasilkan buah yang kekal dalam hidupku, keluargaku, gerejaku, dan mereka yang kudoakan. Yesus, jadilah pusat, tujuan, dan pahala dari puasaku. Amin."
Apakah Anda Ingin Berpuasa Air?
Halaman ini berfokus pada tujuan puasa yang bersifat spiritual dan alkitabiah.
Untuk informasi praktis mengenai persiapan, hidrasi, efek fisik, tanda-tanda peringatan, dan cara mengakhiri puasa panjang, bacalah sumber daya terpisah kami:
Bergabunglah dalam 21 Hari Pengabdian
Bergabunglah dengan para pengikut Yesus di seluruh dunia selama 21 Hari pertobatan, puasa, doa, persatuan, dan pengabdian, yang dimulai pada tanggal 11 September tahun ini.
Selama dua puluh satu hari ini, individu, keluarga, gereja, pelayanan, dan komunitas Kristen akan mencari Tuhan bersama-sama, kembali kepada kasih mula-mula mereka, dan mempersiapkan hati mereka untuk menjadi tempat kediaman bagi hadirat-Nya.
Saat Anda mendaftar, Anda akan mendapatkan akses ke Panduan 21 Hari lengkap dan semua sumber daya Alkitab yang tersedia di perpustakaan kami.
