Haruskah Umat Kristen Merayakan Halloween? Bahaya Spiritual yang Sering Diabaikan oleh Banyak Orang Percaya
Apa yang Alkitab katakan tentang Halloween, kegelapan, dan bahaya mencintai dunia lebih daripada Yesus?
Efesus 5:10 — “Dan berusahalah untuk membedakan apa yang menyenangkan Tuhan.”
Setiap tahun, menjelang tanggal 31 Oktober, jutaan orang bersiap untuk merayakan Halloween. Rumah-rumah didekorasi dengan kerangka, hantu, penyihir, setan, dan gambar-gambar kematian. Anak-anak dan orang dewasa mengenakan kostum, film horor menjadi sangat populer, dan seluruh lingkungan ikut serta dalam perayaan yang berpusat pada tema ketakutan, kegelapan, dan hal-hal supernatural. Yang sangat mengkhawatirkan adalah betapa banyak orang Kristen yang ikut serta dalam perayaan ini tanpa mempertanyakan secara serius apakah hal itu menyenangkan Tuhan.
Bagi banyak orang beriman, Halloween telah menjadi tidak lebih dari sekadar tradisi yang tidak berbahaya. Mereka melihat kostum, permen, dekorasi, dan kesempatan untuk hiburan keluarga. Mereka beralasan bahwa karena mereka tidak berniat menyembah Setan atau melakukan sihir, tidak ada yang salah secara spiritual dengan berpartisipasi. Lagipula, bukankah itu hanya kesenangan yang tidak berbahaya?
Namun sebagai pengikut Yesus Kristus, haruskah keputusan kita terutama didasarkan pada apakah sesuatu tampak tidak berbahaya, apakah masyarakat menerimanya, atau apakah kita dapat menemukan cara untuk membenarkannya? Atau haruskah perhatian terbesar kita adalah apakah apa yang kita lakukan menyenangkan Tuhan?
Rasul Paulus memberi kita sebuah prinsip yang seharusnya sangat memengaruhi setiap aspek kehidupan kita:
1 Korintus 10:23 — “Segala sesuatu diperbolehkan,” tetapi tidak semuanya bermanfaat. “Segala sesuatu diperbolehkan,” tetapi tidak semuanya membangun.
1 Korintus 10:31 — “Jadi, baik kamu makan atau minum, atau apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah semuanya untuk kemuliaan Allah.”
Ayat-ayat ini menentang kesalahpahaman umum tentang kebebasan Kristen. Kebebasan kita di dalam Kristus bukanlah undangan untuk menerima segala sesuatu yang ditawarkan dunia, asalkan kita dapat menemukan alasan untuk menganggapnya diperbolehkan. Sebaliknya, itu adalah kesempatan untuk hidup dengan cara yang menghormati Dia yang telah menebus kita. Paulus menantang orang percaya untuk mempertimbangkan tidak hanya apakah sesuatu diperbolehkan, tetapi juga apakah hal itu bermanfaat, membangun secara rohani, dan memuliakan Allah.
Hal ini menimbulkan pertanyaan yang patut kita pertimbangkan dengan sungguh-sungguh: Mengapa mereka yang percaya kepada Yesus Kristus ingin berpartisipasi dalam perayaan yang begitu erat kaitannya dengan kegelapan, sihir, setan, dan kematian?
Jawaban atas pertanyaan itu mungkin mengungkapkan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada pendapat kita tentang Halloween. Itu mungkin mengungkapkan bagaimana kita memahami kekudusan, bagaimana kita menanggapi Firman Tuhan, dan seberapa besar hati kita telah benar-benar kita serahkan kepada Yesus.
1. Kita Dipanggil untuk Berjalan dalam Terang, Bukan Berpartisipasi dalam Kegelapan
Salah satu perbedaan paling jelas di seluruh Kitab Suci adalah kontras antara terang dan gelap. Terang melambangkan karakter Allah, kebenaran-Nya, keadilan-Nya, dan kekudusan-Nya, sementara kegelapan sering kali melambangkan dosa, tipu daya, dan pemberontakan terhadap-Nya. Ini bukan sekadar deskripsi puitis. Hal ini mengkomunikasikan perbedaan spiritual yang mendalam antara menjadi milik Kristus dan terus berada di jalan dunia yang tidak mengenal Dia.
Efesus 5:8-11 — “Sebab dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang dalam Tuhan. Hiduplah sebagai anak-anak terang ... dan berusahalah untuk membedakan apa yang berkenan kepada Tuhan. Janganlah kamu turut serta dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak menghasilkan buah, tetapi sebaliknya, singkapkanlah perbuatan-perbuatan itu.”
Perhatikan bahwa Paulus tidak hanya menyuruh orang Kristen untuk menghindari bentuk-bentuk kejahatan yang paling serius. Ia memerintahkan kita untuk hidup sebagai anak-anak terang, secara aktif membedakan apa yang menyenangkan Tuhan dan menolak untuk terlibat dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak menghasilkan buah. Identitas kita di dalam Kristus dimaksudkan untuk menghasilkan perbedaan yang nyata dalam cara kita hidup, apa yang kita hargai, dan apa yang dengan rela kita terima.
Hal ini sangat penting jika kita mempertimbangkan tema-tema yang menjadi ciri khas Halloween. Meskipun perayaan ini telah berkembang melalui berbagai tradisi sejarah dan budaya, ekspresi modernnya secara menonjol menampilkan sihir, setan, citra supernatural yang menakutkan, dan kematian. Ini bukanlah asosiasi yang kebetulan; ini adalah beberapa elemen yang paling mudah dikenali dari perayaan tersebut.
Kitab Suci berulang kali memperingatkan orang percaya agar tidak terlibat dengan perbuatan kegelapan. Namun budaya kita telah belajar mengubah banyak tema ini menjadi hiburan, dan orang Kristen secara bertahap dapat menjadi begitu terbiasa dengannya sehingga mereka tidak lagi mempertanyakan makna spiritualnya.
Rasul Paulus menulis:
Roma 13:12 — “Malam sudah larut, siang sudah dekat. Karena itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan terang.”
Dan rasul Yohanes menyatakan:
1 Yohanes 1:6 — “Jika kita mengatakan bahwa kita bersekutu dengan Dia, padahal kita hidup dalam kegelapan, kita berdusta dan tidak melakukan kebenaran.”
Bagian-bagian ini menyangkut cara hidup kita, bukan hanya partisipasi kita dalam peristiwa-peristiwa tertentu. Meskipun demikian, bagian-bagian ini menetapkan prinsip yang seharusnya membimbing pilihan kita: mereka yang termasuk dalam Terang seharusnya tidak dengan sengaja menerima apa yang bertentangan dengan karakter-Nya.
Yesus sendiri menyatakan bahwa siapa pun yang mengikuti Dia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan akan memiliki terang hidup (Yohanes 8:12). Jika kita benar-benar ingin mengikuti Dia, bukankah seharusnya kita semakin peka terhadap segala sesuatu yang menarik perhatian kita kepada kegelapan daripada kepada kekudusan-Nya?

2. Mengapa Kita Senang Melihat Hal-hal yang Disebut Jahat oleh Tuhan?
Ada prinsip alkitabiah lain yang patut mendapat perhatian serius, khususnya di generasi yang dikelilingi oleh hiburan yang terus-menerus mengekspos kita pada kekerasan, amoralitas, citra okultisme, dan kejahatan.
Tuhan tidak hanya memperhatikan tindakan lahiriah kita, tetapi juga apa yang dengan sengaja kita tempatkan di hadapan mata kita dan kita izinkan untuk memengaruhi pikiran dan hati kita.
Perhatikan komitmen yang dinyatakan dalam Mazmur 101:
Mazmur 101:3 — “Aku tidak akan menaruh di hadapan mataku sesuatu yang tidak berharga.”
Dan doa yang terdapat dalam Mazmur 119:
Mazmur 119:37 — “Jauhkanlah mataku dari hal-hal yang tidak berguna, dan berikanlah kepadaku hidup dalam jalan-Mu.”
Ini adalah ungkapan pengabdian yang luar biasa. Pemazmur menyadari bahwa apa yang ia pilih untuk dilihat itu penting. Ia tidak ingin merasa nyaman dengan hal-hal yang tidak berharga atau jahat. Sebaliknya, ia menginginkan agar mata, pikiran, dan perasaannya diarahkan kepada jalan-jalan Allah.
Prinsip ini seharusnya mendorong kita untuk memeriksa banyak hal yang dianggap sebagai hiburan saat ini. Mengapa kita begitu nyaman menonton hal-hal yang menggambarkan kejahatan sebagai sesuatu yang lucu, menarik, atau diinginkan? Mengapa kita dengan rela mengekspos diri kita dan anak-anak kita pada gambar dan cerita yang berpusat pada aktivitas setan, sihir, kekejaman, teror, dan kematian, sementara jarang mempertimbangkan bagaimana hal-hal ini memengaruhi kehidupan spiritual kita?
Kita harus menyadari bahwa Kitab Suci sendiri terkadang menggambarkan perbuatan jahat yang mengerikan, dan sekadar melihat penggambaran kejahatan bukanlah sama dengan menyetujuinya. Tetapi ada perbedaan mendalam antara mengenali kejahatan sebagaimana adanya dan memilih untuk menikmatinya. Ada perbedaan antara mengungkap kegelapan dan merayakannya, antara memahami realitas kejahatan dan terhibur oleh pemuliaannya.
Rasul Paulus memberikan standar yang harus digunakan orang percaya untuk memeriksa hal-hal yang memenuhi pikiran mereka:
Filipi 4:8 — “Akhirnya, saudara-saudara, apa pun yang benar, apa pun yang mulia, apa pun yang adil, apa pun yang murni, apa pun yang indah, apa pun yang terpuji, jika ada keunggulan, jika ada sesuatu yang layak dipuji, pikirkanlah hal-hal itu.”
Bayangkan betapa berbedanya hidup kita jika kita dengan tulus menerapkan ayat ini pada hiburan, percakapan, bacaan, televisi, film, media sosial, dan perayaan kita. Berapa banyak hal yang saat ini kita anggap tidak berbahaya akan mulai kita pertanyakan? Berapa banyak aktivitas yang mungkin kehilangan daya tariknya jika keinginan terdalam kita adalah untuk mengisi pikiran kita dengan apa yang murni, indah, dan menyenangkan bagi Tuhan?
Yesus mengajarkan bahwa mata adalah pelita tubuh (Matius 6:22-23), menggunakan gambaran ini untuk membahas kondisi kehidupan batin kita. Amsal 4:23 juga memerintahkan kita untuk menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah mengalir sumber kehidupan.
Apa yang berulang kali kita terima dalam pikiran kita dapat memengaruhi apa yang kita kagumi, inginkan, dan akhirnya terima. Ketika kita terus-menerus mengelilingi diri kita dengan hal-hal yang meremehkan kejahatan, kita berisiko kehilangan kepekaan kita terhadap keseriusan dosa.
Ini bukan sekadar pertanyaan tentang dekorasi Halloween atau kostum yang menakutkan. Ini adalah pertanyaan tentang kondisi spiritual hati kita dan apakah kita belajar untuk mencintai apa yang Tuhan cintai dan menolak apa yang Dia tolak.
3. Tuhan Menanggapi Ilmu Sihir, Sihir, dan Praktik Okultisme dengan Serius
Sepanjang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Tuhan berbicara dengan keseriusan yang jelas tentang sihir, ilmu gaib, ramalan, spiritisme, dan upaya untuk berkomunikasi dengan orang mati. Praktik-praktik ini tidak pernah disajikan sebagai alternatif spiritual yang tidak berbahaya atau bentuk hiburan yang polos. Praktik-praktik ini secara konsisten diidentifikasi sebagai tidak sesuai dengan penyembahan dan ketaatan kepada Allah yang benar dan hidup.
Dalam Kitab Ulangan, Tuhan memperingatkan Israel agar tidak mengadopsi praktik-praktik keagamaan yang menjijikkan dari bangsa-bangsa di sekitarnya.
Ulangan 18:10-12 — Allah secara tegas melarang ramalan, peramalan nasib, penafsiran pertanda, sihir, jimat, konsultasi dengan perantara roh, ilmu sihir, dan upaya untuk bertanya kepada orang mati, menyatakan bahwa orang-orang yang melakukan hal-hal seperti itu adalah orang yang menjijikkan bagi-Nya.
Imamat 19:31 — “Janganlah kamu menyembah dukun atau tukang sihir; janganlah kamu mencari mereka, sehingga kamu menjadi najis karena mereka. Akulah TUHAN, Allahmu.”
Yesaya 8:19 — Nabi menegur orang-orang yang meminta petunjuk dari perantara roh dan orang-orang yang mengaku dapat berkomunikasi dengan orang mati, dan bertanya apakah suatu kaum tidak seharusnya meminta petunjuk kepada Allah mereka.
Peringatan-peringatan ini mengungkapkan betapa seriusnya Allah memandang praktik-praktik yang mencari kekuatan, pengetahuan, atau komunikasi supranatural di luar Dia. Ini bukan soal preferensi pribadi. Allah secara tegas memerintahkan umat-Nya untuk menolaknya.
Larangan-larangan ini pun tidak hilang dengan kedatangan Kristus. Dalam Galatia 5:19-21, rasul Paulus memasukkan sihir di antara perbuatan-perbuatan daging, bersama dengan penyembahan berhala dan dosa-dosa lain yang menjadi ciri kehidupan yang bertentangan dengan kerajaan Allah.
Pertimbangkan juga apa yang terjadi ketika Injil mengubah kehidupan orang-orang di Efesus.
Kisah Para Rasul 19:18-20 — Banyak orang yang telah percaya datang mengakui perbuatan-perbuatan mereka terdahulu, dan sejumlah orang yang dahulu melakukan sihir mengumpulkan kitab-kitab mereka dan membakarnya di depan umum. Bagian ini diakhiri dengan menggambarkan bagaimana Firman Tuhan terus bertambah dan berkuasa dengan dahsyat.
Para penganut baru ini memahami bahwa mengikuti Yesus membutuhkan pemutusan hubungan yang tegas dengan praktik-praktik yang bertentangan dengan kekudusan-Nya. Mereka tidak berusaha mempertahankan keterlibatan mereka sebelumnya dengan sihir sambil menambahkan kepercayaan Kristen ke dalam hidup mereka. Pertobatan mereka menghasilkan perubahan yang nyata.
Tentu saja, memerankan penyihir fiktif tidak sama dengan mempraktikkan sihir. Namun, perbedaan ini seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghindari pemeriksaan terhadap apa yang kita pilih untuk dirayakan atau dikagumi. Keseriusan Tuhan dalam menyikapi praktik-praktik okultisme seharusnya memengaruhi cara anak-anak-Nya memandang pengagungan praktik-praktik tersebut dalam budaya populer.
Ketika sesuatu yang berulang kali dikutuk oleh Kitab Suci menjadi objek hiburan, daya tarik, atau perayaan, bukankah itu seharusnya mengganggu hati orang-orang yang mengasihi Tuhan?
Jika kita sungguh-sungguh ingin menghormati Tuhan, kita seharusnya tidak hanya memperhatikan untuk menghindari keterlibatan langsung dalam praktik-praktik terlarang, tetapi juga untuk menumbuhkan kasih sayang yang mencerminkan kekudusan-Nya.
4. Apakah Kita Mencari Apa yang Menyenangkan Tuhan—atau Apa yang Dapat Kita Benarkan?
Salah satu aspek yang paling mengungkapkan kehidupan spiritual kita adalah bagaimana kita menanggapi ketika Firman Tuhan menantang sesuatu yang kita sukai.
Ketika dihadapkan dengan prinsip Alkitab yang mempertanyakan aktivitas, tradisi, atau kebiasaan favorit kita, apakah kita dengan rendah hati memeriksa diri kita di hadapan Tuhan? Atau apakah kita langsung mulai mencari argumen yang memungkinkan kita untuk terus melakukan apa yang sudah ingin kita lakukan?
Ini adalah pertanyaan penting karena hati kita mampu membenarkan hal-hal yang enggan kita lepaskan.
Yeremia 17:9 — “Hati itu licik di atas segala-galanya dan sangat sakit; siapakah yang dapat memahaminya?”
Alkitab berulang kali memperingatkan kita agar tidak hanya mengandalkan pemahaman kita sendiri atau membiarkan keinginan kita menentukan apa yang benar. Amsal 14:12 mengingatkan kita bahwa ada jalan yang tampaknya benar bagi seseorang, tetapi pada akhirnya menuju kematian. Kita membutuhkan Firman Tuhan untuk menyingkapkan apa yang mungkin gagal dikenali oleh hati kita sendiri.
Ketika umat Kristen membahas Halloween, percakapan sering kali berpusat pada apa yang mereka yakini bebas untuk mereka lakukan. Mereka mungkin menunjukkan bahwa mereka tidak melakukan praktik sihir, bahwa anak-anak mereka hanya bersenang-senang, atau bahwa kebiasaan tertentu tidak memiliki makna keagamaan yang eksplisit bagi mereka.
Namun ada pertanyaan yang lebih mendalam yang tidak boleh diabaikan: Apakah kita dengan tulus berusaha menemukan apa yang menyenangkan Tuhan, ataukah kita terutama mencoba membela sesuatu yang kita sukai?
Ajaran Paulus dalam 1 Korintus sangat relevan.
1 Korintus 6:12 — “Segala sesuatu diizinkan bagiku,” tetapi tidak semua hal berguna. “Segala sesuatu diizinkan bagiku,” tetapi aku tidak akan diperbudak oleh apa pun.
1 Korintus 10:23 — “Segala sesuatu diperbolehkan,” tetapi tidak semuanya bermanfaat. “Segala sesuatu diperbolehkan,” tetapi tidak semuanya membangun.
Bagian-bagian ini tidak menyiratkan bahwa segala sesuatu secara moral diperbolehkan. Sebaliknya, Paulus menantang anggapan bahwa kebebasan pribadi adalah standar tertinggi untuk perilaku Kristen. Pilihan kita juga harus dievaluasi berdasarkan manfaat rohaninya, dampaknya terhadap orang lain, dan apakah pilihan tersebut memuliakan Tuhan.
Seorang pengikut Yesus tidak seharusnya merasa puas hanya karena sesuatu tidak dapat diidentifikasi sebagai pelanggaran eksplisit terhadap perintah tertentu. Kita seharusnya ingin mengetahui apakah hal itu berkontribusi pada pertumbuhan kita dalam kekudusan, memperkuat kasih kita kepada Kristus, dan mencerminkan karakter Dia yang kita layani.
Inilah mengapa Efesus 5:10 sangat penting: kita diperintahkan untuk membedakan apa yang menyenangkan Tuhan.
Perhatikan perbedaan antara mendekati Tuhan dengan pertanyaan, “Tuhan, seberapa banyak dari ini yang dapat saya nikmati tanpa berbuat dosa?” dan mendekati-Nya dengan doa, “Tuhan, saya ingin menyenangkan-Mu lebih dari apa pun. Jika ada sesuatu dalam hidup saya yang tidak memuliakan-Mu, tunjukkanlah kepada saya dan berikanlah saya anugerah untuk menyerahkannya.”
Sikap pertama berupaya mencapai batas-batas ketaatan. Sikap kedua mengungkapkan inti dari pengabdian diri.
Dan sikap kedua inilah yang seharusnya menjadi ciri khas orang-orang yang benar-benar mengasihi Yesus.
5. Apakah Kita Sudah Terlalu Nyaman dengan Dunia Sehingga Kita Tak Lagi Menyadari Pengaruhnya?
Mungkin bahaya terbesar yang dihadapi banyak orang Kristen saat ini bukanlah pemberontakan terbuka terhadap Tuhan, melainkan penerimaan bertahap terhadap sikap, nilai, dan praktik yang bertentangan dengan Firman-Nya.
Proses ini sering terjadi hampir tanpa disadari. Apa yang dulunya mengganggu hati nurani kita secara bertahap menjadi biasa. Apa yang dulunya tampak tidak pantas menjadi menghibur. Apa yang dulunya tampak bertentangan dengan kekudusan Kristen menjadi diterima karena semua orang di sekitar kita ikut serta.
Pada akhirnya, kita mungkin akan berhenti mengevaluasi pilihan kita berdasarkan Kitab Suci dan mulai mengevaluasinya berdasarkan apa yang dianggap normal oleh masyarakat.
Namun rasul Paulus memerintahkan kita:
Roma 12:2 — “Janganlah kamu menyerupai dunia ini, tetapi hendaklah kamu diubah oleh pembaharuan pikiranmu, supaya kamu dapat membedakan apa yang kehendak Allah, apa yang baik dan yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
Dunia terus berupaya membentuk pemahaman kita tentang apa yang baik, diinginkan, dapat diterima, dan layak dirayakan. Melalui hiburan, iklan, media sosial, pendidikan, dan tradisi budaya, kita terus-menerus terpapar pesan-pesan yang memengaruhi pikiran dan perasaan kita.
Namun Allah tidak memanggil anak-anak-Nya untuk dibentuk oleh nilai-nilai dunia yang memberontak terhadap-Nya. Ia memanggil kita untuk diubahkan melalui pembaharuan pikiran kita.
Rasul Yohanes berbicara bahkan lebih lugas:

1 Yohanes 2:15-17 — Yohanes memerintahkan orang percaya untuk tidak mencintai dunia atau hal-hal yang ada di dunia. Ia memperingatkan bahwa keinginan daging, keinginan mata, dan kesombongan hidup tidak berasal dari Bapa, dan mengingatkan kita bahwa dunia dan keinginan-keinginannya akan lenyap, sedangkan siapa pun yang melakukan kehendak Allah akan tetap ada selama-lamanya.
Ini adalah beberapa kata yang paling mendalam dalam Perjanjian Baru.
Yohanes tidak menyuruh kita untuk berhenti mengasihi orang-orang di dunia, yang dikasihi Allah sendiri dan yang Ia panggil kita untuk menjangkau mereka dengan Injil. Ia memperingatkan kita agar tidak mengasihi keinginan, nilai-nilai, dan prioritas yang berdosa dari dunia yang hidup terlepas dari Allah.
Dan ini memunculkan pertanyaan yang sangat pribadi: Apakah kita menjadi lebih peduli untuk menyesuaikan diri dengan dunia daripada untuk menyenangkan Yesus?
Mengapa terkadang kita merasa sangat ingin ikut serta dalam perayaan yang sama, menikmati hiburan yang sama, mengejar kesenangan yang sama, dan mengadopsi nilai-nilai yang sama seperti mereka yang tidak mengenal Kristus? Mengapa terkadang kita lebih terganggu oleh pikiran kehilangan sesuatu yang dinikmati dunia daripada kemungkinan bahwa pilihan kita dapat menyedihkan hati Tuhan?
Yang lebih mengungkapkan lagi adalah bagaimana kita menanggapi ketika seseorang menantang pilihan-pilihan tersebut melalui Kitab Suci. Apakah kita menjadi defensif? Apakah kita mengabaikan kekhawatiran itu sebagai legalisme tanpa memeriksa Firman Tuhan dengan saksama? Apakah kita mencari alasan untuk mempertahankan preferensi kita daripada meminta Roh Kudus untuk menyelidiki hati kita?
Kita harus berhati-hati agar tidak menghakimi hati orang lain hanya karena mereka tidak setuju dengan kita tentang suatu kebiasaan tertentu. Tetapi kita harus bersedia memeriksa hati kita sendiri dengan ketulusan sepenuhnya.
James memberikan peringatan yang serius:
Yakobus 4:4 — “Hai kamu orang-orang yang berzina! Tidakkah kamu tahu bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Karena itu, siapa pun yang ingin berteman dengan dunia, ia menjadikan dirinya musuh Allah.”
Kata-kata ini ditulis untuk orang-orang yang mengaku beriman kepada Tuhan. Yakobus sedang menghadapi kesetiaan yang terpecah, keinginan egois, dan ketidaksetiaan rohani di antara mereka yang mengaku milik-Nya.
Bahaya keduniawian bukan hanya terletak pada kemungkinan kita terlibat dalam sesuatu yang tidak pantas. Bahaya yang lebih dalam adalah hati kita secara bertahap menjadi terikat pada hal-hal yang justru telah Kristus serukan untuk kita jauhi.
Dan ketika itu terjadi, kita mungkin mulai membela hal-hal duniawi dengan lebih bersemangat daripada mengejar kekudusan Tuhan.
6. Apa yang Diungkapkan Tentang Hati Kita dari Kesediaan Kita untuk Membela Hal-hal Tertentu?
Ada sebuah pertanyaan yang seharusnya sesekali diajukan oleh setiap pengikut Yesus kepada Tuhan: Apa yang tidak ingin saya serahkan?
Terkadang hal-hal yang menunjukkan keterikatan terbesar di hati kita bukanlah hal-hal yang tampak paling jelas sebagai dosa. Itu bisa berupa kebiasaan kita, kenyamanan kita, hiburan kita, ambisi kita, harta benda kita, atau tradisi yang telah menjadi sangat penting bagi kita.
Kita mungkin dengan tulus percaya bahwa kita mengasihi Yesus di atas segalanya. Namun ketika Firman-Nya menantang sesuatu yang kita hargai, respons kita mungkin mengungkapkan betapa terpecahnya kasih sayang kita.
Yesus berkata:
Yohanes 14:15 — “Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku.”
Dan sekali lagi:
Lukas 6:46 — “Mengapa kamu menyebut Aku Tuhan, Tuhan, tetapi tidak melakukan apa yang Kukatakan kepadamu?”
Kata-kata ini mengingatkan kita bahwa kasih kepada Yesus tidak dapat dipisahkan dari ketaatan kepada-Nya. Iman yang sejati menghasilkan keinginan yang semakin besar untuk menyerahkan hidup kita kepada otoritas-Nya, bahkan ketika ketaatan mengharuskan kita untuk meninggalkan sesuatu yang sebelumnya kita nikmati.
Penguasa muda yang kaya raya memberikan contoh yang mencolok dari pergumulan ini. Ketika ia mendekati Yesus untuk bertanya tentang hidup kekal, ia tampak tulus tertarik pada hal-hal rohani dan telah berusaha untuk menaati perintah Allah. Namun ketika Yesus menantangnya untuk menyerahkan harta miliknya dan mengikuti Dia, orang itu pergi dengan sedih karena ia memiliki kekayaan yang besar (Markus 10:17-22).
Barang-barang miliknya mengungkapkan keterikatan yang tidak ingin ia lepaskan.
Yesus menyingkapkan kesetiaan yang terpecah di dalam hatinya.
Pelajaran yang dapat dipetik bukanlah bahwa setiap orang Kristen harus menjual semua harta miliknya. Melainkan bahwa tidak ada satu pun dalam hidup kita yang boleh menempati tempat kesetiaan yang hanya milik Kristus semata.
Prinsip ini berlaku di setiap area kehidupan kita. Jika kita mendapati diri kita bertekad untuk mempertahankan sesuatu bahkan ketika Kitab Suci menyampaikan kekhawatiran serius tentang hal itu, kita harus bersedia bertanya apakah keterikatan kita telah menjadi tidak sehat secara rohani.
Mungkin pertanyaan yang paling mengungkapkan bukanlah apakah kita dapat membangun argumen untuk membela suatu aktivitas tertentu. Mungkin pertanyaan yang paling penting adalah apakah kita bersedia menyerahkan aktivitas itu kepada Yesus dan dengan tulus meminta-Nya untuk menunjukkan kehendak-Nya kepada kita.
Ketika kasih kita kepada Kristus lebih besar daripada kasih kita kepada dunia, penyerahan diri menjadi lebih penting daripada pembenaran.
Ini bukan berarti mengikuti Yesus adalah kehidupan tanpa sukacita yang penuh dengan batasan-batasan tanpa akhir. Justru sebaliknya. Semakin dalam kita mengenal Dia, semakin kita menemukan bahwa sukacita sejati terdapat dalam hadirat-Nya, kebenaran-Nya, dan jalan-jalan-Nya.
Pemazmur menyatakan:
Mazmur 16:11 — “Engkau menunjukkan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita yang penuh; di sebelah kanan-Mu ada kesenangan selama-lamanya.”
Allah tidak memanggil kita menjauh dari dunia untuk merampas sukacita kita. Ia memanggil kita menjauh dari hal-hal yang bersaing dengan Dia agar kita dapat mengalami sukacita yang jauh lebih besar, yaitu mengenal dan berjalan bersama-Nya.
7. Apa yang Kita Ajarkan kepada Anak-Anak Kita tentang Kekudusan?
Bagi orang tua Kristen, pertanyaan-pertanyaan ini membawa tanggung jawab tambahan. Anak-anak kita terus belajar tentang apa yang dapat diterima, diinginkan, penting, dan layak dirayakan, tidak hanya melalui kata-kata kita tetapi juga melalui teladan kita.
Allah memerintahkan umat-Nya untuk mengajarkan perintah-perintah-Nya dengan sungguh-sungguh kepada anak-anak mereka, membicarakannya dalam kegiatan sehari-hari (Ulangan 6:5-7). Rasul Paulus juga menginstruksikan orang tua untuk mendidik anak-anak mereka dalam disiplin dan ajaran Tuhan (Efesus 6:4).
Ini berarti bahwa pembentukan spiritual tidak terbatas pada ibadah keluarga, kehadiran di gereja, atau sekolah Minggu. Pembentukan spiritual terjadi melalui suasana yang kita ciptakan di rumah, hiburan yang kita izinkan, nilai-nilai yang kita sampaikan, dan tradisi yang kita bangun.

Ketika kita dengan antusias berpartisipasi dalam perayaan yang berpusat pada tema-tema yang Alkitab peringatkan kepada kita untuk dihindari, apa yang kita sampaikan kepada anak-anak kita tentang keseriusan hal-hal tersebut? Apakah kita mengajari mereka untuk membedakan antara yang kudus dan yang tidak kudus, antara yang murni dan yang rusak, antara yang menyenangkan Tuhan dan yang dirayakan dunia?
Anak-anak mungkin tidak memahami makna spiritual dari setiap simbol atau tradisi, tetapi mereka belajar dari hal-hal yang kita anggap normal.
Jika kita mengajarkan kepada mereka bahwa kekudusan itu penting pada hari Minggu tetapi jarang membiarkan prinsip-prinsip Alkitab memengaruhi pilihan kita sehari-hari, kita berisiko menyampaikan bahwa mengikuti Yesus hanyalah satu bagian dari kehidupan, bukan dasar dari segala sesuatu yang kita lakukan.
Tujuan kita seharusnya bukan sekadar membesarkan anak-anak yang menghindari hari libur atau kegiatan tertentu. Kita seharusnya berkeinginan untuk membesarkan anak-anak yang hatinya dipenuhi kasih kepada Yesus, yang pikirannya dibentuk oleh Kitab Suci, dan yang memiliki keberanian untuk berdiri terpisah dari dunia ketika kesetiaan kepada Kristus menuntutnya.
Hadiah terbesar yang dapat kita berikan kepada anak-anak kita bukanlah kebebasan untuk ikut serta dalam segala hal yang dinikmati teman-teman mereka, tetapi teladan dari orang tua yang menghargai Yesus di atas segalanya.
Ini bukan berarti membesarkan anak-anak dalam ketakutan terhadap dunia. Ini berarti mengajari mereka untuk mengasihi Tuhan, mengenali apa yang baik, menolak apa yang jahat, dan memahami keindahan menjadi milik-Nya.
8. Bahaya yang Lebih Besar Tidak Terbatas pada Halloween
Sekarang seharusnya sudah jelas bahwa pertanyaan-pertanyaan yang muncul terkait Halloween meluas jauh melampaui tanggal 31 Oktober.
Bahkan, akan menjadi kesalahan serius jika kita meneliti partisipasi kita dalam perayaan Halloween sambil mengabaikan area lain dalam hidup kita di mana kita mungkin telah berkompromi dengan dunia.
Seseorang mungkin menolak merayakan Halloween sementara secara teratur menikmati hiburan yang mengagungkan kemaksiatan seksual, kekejaman, atau kejahatan. Seseorang mungkin menolak kostum yang terkait dengan sihir sementara menyimpan kepahitan, kesombongan, keserakahan, atau ketidakmaafan. Yang lain mungkin dengan hati-hati menghindari tradisi budaya tertentu sementara mengabaikan perintah Kristus untuk mengasihi sesama, memperhatikan orang miskin, memberitakan Injil, dan menjadikan murid.
Yesus memperingatkan para pemimpin agama pada zamannya tentang bahaya memperhatikan praktik-praktik keagamaan lahiriah dengan saksama sementara mengabaikan hal-hal yang lebih penting dari hukum Allah, termasuk keadilan, belas kasihan, dan kesetiaan (Matius 23:23).
Kita tidak boleh mengulangi kesalahan yang sama.
Allah tidak mencari orang-orang yang hanya sekadar membuat daftar kegiatan yang mereka tolak untuk ikuti. Ia mencari penyembah yang mengasihi-Nya dengan sepenuh hati dan yang hidupnya semakin diubahkan oleh kebenaran-Nya.
1 Tesalonika 4:7 — “Sebab Allah tidak memanggil kita untuk berbuat najis, melainkan untuk berbuat kudus.”
1 Petrus 1:15-16 — “Tetapi sebagaimana Dia yang telah memanggil kamu adalah kudus, hendaklah kamu juga kudus dalam segala tingkah lakumu, karena ada tertulis: ‘Hendaklah kamu kudus, sebab Aku kudus.’”
Perhatikan luasnya panggilan ini: kekudusan dalam semua tingkah laku kita. Bukan hanya dalam perayaan kita, tetapi juga di rumah, hubungan, tempat kerja, pikiran pribadi, keputusan keuangan, percakapan, dan penggunaan waktu kita. Bukan hanya dalam dosa-dosa yang mudah kita tolak, tetapi juga di bidang-bidang di mana ketaatan mungkin membutuhkan pengorbanan. Bukan hanya ketika kekudusan dikagumi oleh orang lain, tetapi juga ketika hal itu mengharuskan kita untuk berdiri terpisah dari budaya di sekitar kita.
Rasul Paulus menulis:
2 Korintus 7:1 — “Karena kita mempunyai janji-janji itu, hai saudara-saudara yang terkasih, marilah kita membersihkan diri dari segala pencemaran tubuh dan roh, dan menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.”
Apa yang akan terjadi jika kita menanggapi instruksi ini dengan serius? Bagaimana jika, alih-alih membela hal-hal yang kita nikmati, kita mengundang Tuhan untuk memeriksa segala sesuatu yang telah kita izinkan masuk ke dalam hidup kita?
Bagaimana jika kita meminta-Nya untuk mengungkapkan hiburan yang telah menumpulkan kepekaan kita terhadap dosa, hubungan yang telah menjauhkan kita dari ketaatan, ambisi yang telah menggeser tujuan-Nya, atau kenyamanan yang menjadi lebih penting bagi kita daripada kehendak-Nya?
Mungkin bahaya yang paling serius bukanlah bahwa orang Kristen gagal memahami sejarah Halloween. Mungkin bahayanya adalah banyak dari kita secara bertahap kehilangan kebiasaan untuk dengan tulus bertanya apakah hal-hal yang kita anut menyenangkan Tuhan.
Dan jika kita berhenti mengajukan pertanyaan itu tentang satu bidang kehidupan, berapa banyak bidang lain yang luput dari pengamatan kita?
9. Apakah Kecintaan Kita pada Dunia Telah Menjadi Lebih Besar daripada Kecintaan Kita pada Yesus?
Ini adalah pertanyaan yang sulit, tetapi Alkitab mengajak kita untuk mempertimbangkannya.
Ketika Yesus ditanya perintah manakah yang terbesar, Dia menjawab:
Markus 12:30 — “Dan engkau harus mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu.”
Yesus tidak memanggil kita untuk mengasihi Allah dengan sebagian hati kita atau memberikan kepada-Nya apa pun yang tersisa setelah kita memuaskan keinginan kita sendiri. Ia memanggil kita untuk mengasihi-Nya dengan segenap keberadaan kita.
Inilah esensi dari pengabdian sepenuh hati.
Namun betapa mudahnya hati kita terpecah. Kita mungkin benar-benar ingin mengikuti Yesus sambil terus menghargai hal-hal yang bersaing dengan kasih kita kepada-Nya. Kita mungkin mengaku bahwa Dia adalah harta terbesar kita, sementara membiarkan kesenangan, persetujuan, hiburan, dan prioritas dunia menyita sebagian besar perhatian dan kasih sayang kita.
Rasul Yohanes memperingatkan kita bahwa kasih Bapa dan kasih dunia tidak dapat menempati tempat pengabdian tertinggi yang sama di hati kita (1 Yohanes 2:15).
Ini bukan masalah sepele. Ini menyangkut inti dari hubungan kita dengan Tuhan.
Ketika sesuatu dalam hidup kita ditantang oleh Kitab Suci, respons kita dapat mengungkapkan apa yang paling kita hargai. Apakah kita rela menyerahkannya karena kita mengasihi Yesus, ataukah kita segera mulai mencari alasan untuk tetap mempertahankannya?
Kita tidak boleh mengacaukan kesulitan penyerahan diri dengan ketiadaan iman sejati. Bahkan orang percaya yang tulus pun bergumul dengan keinginan-keinginan yang harus ditundukkan kepada Kristus. Tetapi arah hati kita itu penting. Apakah kita membiarkan Firman Tuhan mengubah kita, ataukah kita terus menerus berusaha membuat Firman Tuhan sesuai dengan preferensi kita?
Yesus berkata:
Matius 16:24 — “Barangsiapa ingin mengikut Aku, hendaklah ia menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku.”
Mengikuti Kristus berarti menyerahkan kehendak kita sendiri kepada-Nya. Itu berarti bahwa ketika keinginan kita bertentangan dengan perintah-Nya, Firman-Nya harus memiliki otoritas tertinggi.
Dan ini membawa kita pada pertanyaan yang mungkin jauh lebih penting daripada pertanyaan yang pertama kali membawa Anda ke artikel ini:
Adakah sesuatu dalam hidup Anda yang selama ini enggan Anda lepaskan karena Anda lebih mencintainya daripada keinginan untuk menyenangkan Yesus?
Mungkin itu adalah bentuk hiburan. Mungkin itu adalah sebuah hubungan, kebiasaan, ambisi, kepemilikan, atau kesenangan tertentu. Mungkin itu adalah sesuatu yang telah Anda bela selama bertahun-tahun tanpa pernah dengan tulus bertanya kepada Tuhan apa pendapat-Nya tentang hal itu.
Apa pun itu, ajakan dari Kitab Suci tetap sama: bawalah hal itu ke dalam terang Firman Tuhan dan izinkan Dia menyelidiki hatimu.
Sang pemazmur berdoa:
Mazmur 139:23-24 — “Ya Allah, selidikilah aku dan ketahuilah hatiku! Ujilah aku dan ketahuilah pikiranku! Lihatlah apakah ada jalan yang jahat dalam diriku, dan tuntunlah aku ke jalan yang kekal!”
Inilah doa dari hati yang benar-benar ingin menjadi milik Tuhan.
Ini bukanlah doa seseorang yang hanya mencari ketaatan minimal. Ini adalah doa seseorang yang tidak ingin menyembunyikan apa pun dari Tuhan, tidak ingin ada yang menyaingi kedudukan-Nya yang sah, dan tidak ingin ada yang menghalangi persekutuan yang lebih dalam dengan-Nya.
Apa yang akan terjadi jika ini menjadi doa kita?
10. Tuhan Memanggil Umat-Nya untuk Pengabdian Sepenuh Hati
Pesan Kitab Suci bukan sekadar bahwa orang Kristen harus menghindari kejahatan. Pesannya adalah bahwa kita telah ditebus oleh Yesus Kristus untuk sepenuhnya menjadi milik-Nya.
Rasul Paulus mengingatkan orang-orang percaya:
2 Korintus 5:15 — “Dan Ia telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk diri mereka sendiri, melainkan untuk Dia yang telah mati dan bangkit demi mereka.”
Yesus tidak memberikan nyawa-Nya hanya agar kita dapat terus hidup menurut keinginan kita sendiri sambil menikmati kepastian pengampunan. Ia mati dan bangkit kembali agar kita dapat diperdamaikan dengan Allah, diubahkan oleh kasih karunia-Nya, dan hidup untuk kemuliaan-Nya.
Inilah sebabnya mengapa panggilan untuk kekudusan tidak dapat dipisahkan dari Injil. Kita mengejar kekudusan bukan untuk mendapatkan kasih Allah atau membeli keselamatan kita. Kita mengejar kekudusan karena kita telah dikasihi, ditebus, dan dikhususkan untuk Dia.
Titus 2:11-12 — “Sebab kasih karunia Allah telah dinyatakan, yang membawa keselamatan bagi semua orang, dan yang telah melatih kita untuk meninggalkan kefasikan dan hawa nafsu duniawi, serta untuk hidup dengan pengendalian diri, jujur, dan saleh di zaman sekarang ini.”
Kasih karunia Allah tidak mengajarkan kita untuk merasa nyaman dengan dosa. Kasih karunia Allah mengajarkan kita untuk meninggalkannya.
Roh Kudus tidak hanya meyakinkan kita sambil membiarkan hati kita tetap tidak berubah. Dia bekerja di dalam kita untuk mengubah keinginan kita, memperbarui pikiran kita, dan menghasilkan karakter Kristus.
Dan ketika kita menyadari area di mana kita telah berkompromi, Tuhan memanggil kita untuk menanggapi dengan kerendahan hati dan pertobatan.
Yakobus 4:8 — “Dekatilah Allah, maka Ia akan mendekat kepadamu.”
1 Yohanes 1:9 — “Jika kita mengaku dosa, Ia setia dan adil untuk mengampuni dosa kita dan membersihkan kita dari segala ketidakadilan.”
Sungguh janji yang luar biasa! Tuhan yang memanggil kita kepada kekudusan juga adalah Tuhan yang menerima mereka yang dengan tulus berbalik kepada-Nya. Keinginan-Nya bukan hanya agar kita merasa bersalah atas dosa-dosa kita, tetapi agar kita berpaling dari dosa-dosa itu dan mengalami persekutuan yang diperbarui dengan-Nya.
Rasul Paulus mengungkapkan inti dari pengabdian diri dalam salah satu seruan terindah dalam Perjanjian Baru:
Roma 12:1-2 — Paulus mendesak orang percaya, mengingat belas kasihan Allah, untuk mempersembahkan tubuh mereka sebagai persembahan hidup yang kudus dan berkenan kepada Allah, dan untuk diubahkan oleh pembaharuan pikiran mereka, bukan untuk menyesuaikan diri dengan dunia.
Inilah kehidupan yang menjadi panggilan setiap pengikut Yesus. Kehidupan yang dipersembahkan di atas mezbah Allah. Kehidupan di mana keinginan, prioritas, kebiasaan, hubungan, harta benda, dan keputusan kita diserahkan kepada kehendak-Nya. Kehidupan di mana kita tidak lagi bertanya seberapa banyak hal duniawi yang dapat kita nikmati sambil tetap menyebut diri kita Kristen, tetapi seberapa sepenuhnya kita dapat menghormati Dia yang telah memberikan segalanya bagi kita.
Dan di sinilah pertanyaan tentang Halloween menemukan jawaban terdalamnya.
Masalahnya bukan hanya apakah kita berpartisipasi dalam perayaan tertentu. Masalahnya adalah apakah kita bersedia membiarkan Yesus Kristus menjadi Tuhan atas setiap aspek kehidupan kita, termasuk hal-hal yang dianggap normal oleh budaya kita dan hal-hal yang kita nikmati secara pribadi.
Ketika Yesus benar-benar menjadi harta terbesar kita, menyenangkan Dia menjadi lebih penting daripada mempertahankan apa pun yang ditawarkan dunia ini.
Undangan untuk Kembali kepada Tuhan dengan Sepenuh Hati
Mungkin Anda mulai membaca artikel ini karena ingin tahu apakah orang Kristen harus merayakan Halloween. Tetapi mungkin, setelah Anda mempertimbangkan ayat-ayat Alkitab ini, Tuhan telah mulai mengungkapkan sesuatu yang jauh lebih dalam.
Mungkin Anda telah menyadari area-area di mana Anda secara bertahap menjadi nyaman dengan hal-hal yang tidak menyenangkan-Nya. Mungkin Anda telah membiarkan nilai-nilai dunia membentuk pilihan Anda lebih daripada Firman-Nya. Atau mungkin Anda menyadari bahwa meskipun Anda dengan tulus percaya kepada Yesus, masih ada bagian-bagian dalam hidup Anda yang belum sepenuhnya Anda serahkan kepada-Nya.
Jika memang demikian, jangan abaikan apa yang mungkin sedang Tuhan ungkapkan kepada Anda.
Tanggapan yang tepat terhadap Firman-Nya bukanlah sekadar persetujuan, tetapi ketaatan.
Yakobus 1:22 — “Tetapi jadilah pelaku firman, dan bukan pendengar saja, yang menipu diri sendiri.”
Allah memanggil umat-Nya kepada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar kesesuaian agama lahiriah. Ia memanggil kita kepada kehidupan yang penuh kasih sepenuh hati, pertobatan, kekudusan, dan keintiman dengan-Nya.
Di Global Consecration, inilah inti dari pesan kami. Kami percaya Gereja sangat membutuhkan untuk menemukan kembali apa artinya menjadi milik Yesus Kristus sepenuhnya—bukan hanya dalam keyakinan atau kegiatan keagamaan kita, tetapi dalam setiap aspek kehidupan kita sehari-hari.
Itulah sebabnya kami mengundang Anda untuk memulai 21 Hari Pengabdian Global, sebuah perjalanan alkitabiah yang dirancang untuk membantu Anda mencari Tuhan, memeriksa hati Anda dalam terang Firman-Nya, berpaling dari dosa, dan memperbarui pengabdian Anda kepada-Nya.
Melalui bacaan Kitab Suci harian, meditasi, doa, dan pernyataan Firman Tuhan, panduan ini akan membantu Anda mengambil langkah-langkah yang disengaja menuju kehidupan pertobatan, penyerahan diri, dan persekutuan yang lebih dalam dengan Yesus.
Anda tidak perlu menunggu musim khusus atau acara yang dijadwalkan. Anda dapat mulai mencari Tuhan hari ini.
Yeremia 29:13 — “Engkau akan mencari Aku dan menemukan Aku, apabila engkau mencari Aku dengan segenap hatimu.”
Apakah Anda Siap Memberikan Seluruh Hati Anda kepada Yesus?
Jika Anda merasa bahwa Tuhan memanggil Anda untuk menjalin hubungan yang lebih dalam dengan-Nya,
Kami mengajak Anda untuk merespons. Sisihkan waktu untuk mencari wajah-Nya, periksa hidup Anda melalui Kitab Suci, dan serahkan apa pun yang Dia ungkapkan.
Dapatkan Panduan Pengabdian 21 Hari lengkap dan informasi tambahan
Sumber daya alkitabiah untuk membantu Anda bertumbuh dalam kekudusan, doa, pertobatan, dan pengabdian sepenuh hati kepada Yesus.
Semoga doa kita seperti doa sang pemazmur:
Mazmur 86:11 — “Ajarlah aku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup dalam kebenaran-Mu dan bersatukanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu.” Tuhan Yesus, selidiki hati kami dan singkapkanlah segala sesuatu yang tidak menyenangkan bagi-Mu. Ampunilah kami atas cara-cara kami membiarkan dunia membentuk pikiran, keinginan, dan pilihan kami. Bebaskanlah kami dari kesetiaan yang terpecah dan dari godaan untuk membela apa yang Engkau panggil kami untuk serahkan. Berikanlah kami hati yang mencintai kebenaran-Mu, bersukacita dalam kekudusan-Mu, dan mendambakan hadirat-Mu di atas segala sesuatu. Ajarlah kami untuk hidup sebagai anak-anak terang, untuk menolak yang jahat, dan untuk berpegang teguh pada yang baik. Semoga hidup kami sepenuhnya dikuduskan bagi-Mu, hanya untuk kemuliaan-Mu. Amin.

